Umur panjang yang diberikan oleh Allah merupakan sebuah anugerah istimewa jika umur tersebut dapat dimanfaatkan untuk beramal lebih banyak dan mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di akhirat kelak. Sebagai orang Muslim, tentu kita sering mendengar batas umur kita secara umum seperti yang disebutkan dalam salah hadits populer. Batas itu adalah 60 tahun hingga 70 tahun, dan sedikit yang melampaui batas ini. Dalam postingan ini saya tertarik untuk meninjau lebih lanjut batasan umur yang disebutkan oleh Rasulullah (SAW) tersebut.

Pertama-tama perlu diketahui bahwa perhitungan umur yang digunakan oleh Rasulullah (SAW), dan yang dijelaskan dalam al-Quran, adalah perhitungan berdasarkan peredaran bulan atau menurut penanggalan Hijriah. Jadi usia 60 tahun yang disebutkan Rasulullah dalam hadits itu adalah usia yang dihitung berdasarkan penanggalan Hijriah. Adapun kita, mendasarkan perhitungan umur pada penanggalan Masehi. Nah, apakah sama antara umur yang dihitung berdasarkan penanggalan Hijriah dengan yang dihitung berdasarkan penanggalah Masehi? Jawabannya adalah tidak. Karena penanggalan Masehi didasarkan pada peredaran matahari maka ada perbedaan jumlah hari dengan penanggalan Hijriah. Jika kita menghitung jumlah hari dalam penanggalan Hijriah selama setahun, lalu dibandingkan dengan jumlah hari dalam penanggalan Masehi selama setahun juga, maka akan didapatkan selisih antara 11 sampai 12 hari. Dengan selisih ini dapat dihitung bahwa seseorang yang berusia 30 tahun menurut perhitungan penanggalan Masehi telah berusia 31 tahun menurut penanggalan Hijriah. Ada perbedaan 1 tahun untuk setiap 30 tahun penanggalan Hijriah. Jadi jika ada yang berusia 30 tahun saat ini, maka sebetulnya dia telah berusia 31 tahun, dan yang berusia 60 tahun sebenarnya telah berusia 62 tahun.

Kita kembali kepada batasan umur yang 60 tahun. Jadi sebenarnya, batasan itu adalah hanya 58 tahun (perhitungan Masehi), bukan 60 tahun. Saya pikir sebagai Muslim, kita juga sebaiknya berpedoman pada penanggalan Hijriah seperti yang dipakai oleh Rasulullah dan sebagaimana telah dilegitimasi oleh Allah dalam al-Quran:

Mereka akan bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah :”Bulan sabit adalah tanda-tanda waktu (ibadah) haji bagi manusia,” … (Qs 2 :189).

Jadi perhitungan waktu yang valid adalah perhitungan waktu berdasarkan peredaran bulan (penanggalan Hijriah). Buat sahabat-sahabat yang rutin merayakan ulang tahun, hari ulang tahun hakiki sahabat sebenarnya adalah tanggal Hijriah yang bertepatan dengan tanggal Masehi saat Anda dilahirkan sehingga sayang sekali jika tanggal Hijriah saat kelahiran Anda itu tidak diketahui, karena itu berarti sahabat tidak pernah merayakan ulang tahun benar-benar pada waktunya. Adakah cara untuk bisa mengetahui tanggal Hijriah yang bertepatan dengan tanggal Masehi kelahiran kita itu puluhan tahun yang lalu?